Malam belum terlalu larut. Seperti biasa, sesudah mengajar, Riani langsung pulang dengan menggunakan angkot menuju halte busway Jati Padang. Tidak ada yang istimewa yang dia rasakan: hanya melangkahkan kaki menapaki bangunan seng ringkih berwujud jembatan berkelok-kelok pengganti tangga menuju loket karcis. Setelah mengeluarkan selembar uang kertas bergambar Imam Bonjol dan menerima selembar Pattimura dan sekeping Melati beserta sobekan karcis, Riani masuk ke dalam halte dan duduk menunggu. Tak lama, busway datang.
Suasana di dalam bus juga tak terlalu spesial. Setelah menyadari tempat favoritnya di barisan belakang pojok kanan sudah ditempati orang lain, Riani mengarahkan pandangannya ke tengah bus. Ada tempat kosong–yah sebenarnya ada banyak, namun Riani agak pemilih dalam mencari tempat duduk yang sesuai, yang setidaknya tidak tepat terkena sentoran AC busway yang luar biasa kencang dan tidak terlalu berpepet-pepetan dengan tubuh orang lain, terutama om-om. Dia duduk dengan nyaman di bangku ketiga di sebelah kiri badan bus dekat pintu masuk utama, sampai akhirnya menyadari bahwa tiga orang yang berada di depannya tengah berbincang dengan nada yang berbeda.
Ada seorang lelaki dan dua perempuan. Lelaki itu terlihat berbeda, dan dengan sekali memandang, Riani bisa tahu dia adalah seorang ekspatriat ras Kaukasoid. Entah orang Italia, Portugis atau Spanyol, yang jelas lelaki itu orang Eropa Selatan. Sementara itu dua perempuan sebelahnya adalah inlander. Ya, orang kita sendiri. Yang satu, yang duduk tepat di hadapan Riani, berkulit putih dengan rambut lurus, sementara sebelahnya berkulit tan atau sawo matang (kalau tidak mau kasar dibilang item). Keduanya berdandan standar, kecuali si sawo memakai tank top dilapisi cardigan dengan garis samar yang terlihat di tengah-tengah dadanya. Hal yang membuat Riani seketika melotot.
Percakapan yang mereka buat tidak terlalu menarik untuk Riani. Dia agak sebal melihat reaksi berlebihan dari kedua perempuan tadi–terutama yang berkulit putih–selama mengobrol dengan si lelaki asing, seakan mereka sedang mengetes keahlian English speaking dengan seorang native speaker yang jelas aksennya bukan ciri-ciri penutur asli. Telinganya yang terbuka tak sengaja menyimak obrolan mereka yang ternyata membahas tentang angkutan umum di Jakarta, dari busway sampai ojek. Dalam hati dia mencibir, lalu mengeluarkan MP3 Playernya supaya telinganya bisa mendengar hal lain di antara deru mesin busway. Dia berniat mendengar radio, namun karena tak jernih, dia memutuskan untuk mendengarkan MP3 saja.
Busway dengan cepat bergerak, bahkan sudah mencapai halte Mampang Prapatan dalam waktu 15 menit. Orang-orang hilir mudik bergantian masuk dan keluar dari bus, dan mereka yang tak turun banyak yang menaruh perhatian pada ketiga orang tadi. Ya, obrolan mereka seakan makin seru saja, apalagi kedua perempuan tersebut semakin antusias menceritakan macam-macam pada si bule. Riani tak tahu apakah keduanya tour guide atau semacamnya, namun sikap keduanya membuat Riani menilai mereka agak berlebihan. Bahkan suara mereka semakin keras hingga Riani terpaksa menggeser tombol volume suara menjadi lebih kencang. Orang-orang akhirnya memusatkan perhatian pada ketiganya, namun mereka kelihatannya tak peduli telah menjadi tontonan satu bus.
Menuju halte Kuningan Madya, si bule terlihat gelisah. Ah, rupanya dia hendak turun. Setelah diberi pengarahan jalan oleh kedua perempuan tadi, si bule akhirnya berdiri, kemudian mencium kedua pipi masing-masing perempuan di bawah tatapan seluruh penumpang bus. Uf, good-bye kissing, eh? Akhirnya bus berhenti dan si bule melangkah keluar bus sambil melambai. Terdengar si perempuan berkulit putih berseru, “Careful.” Riani tersenyum kecut. Seharusnya dia mengatakan “Take care” jika bermaksud bilang “Hati-hati” saat hendak berpisah. Dari sini Riani baru tahu rupanya status mereka sama-sama penumpang, bukan seorang turis lelaki dengan dua pemandu perempuan. Namun tetap saja, setelah busway beranjak pergi dari halte Kuningan Madya, reaksi keduanya masih antusias menjurus norak.
Selalu saja begini jika orang Indonesia bertemu dengan orang asing, terutama bule. Ekspresi yang berlebihan ditunjukkan dengan mendadak bicara bahasa Inggris dengan logat sok British. Inikah sindrom Ai-Ken-Spik-Englis-Peri-Wel khas orang Indonesia? Mengapa kedudukan orang asing di mata orang Indonesia begitu istimewa seakan mereka adalah makhluk luar angkasa? Padahal orang asing masih sama-sama manusia yang berdiri dengan dua kaki dan makan dengan tangan, bahkan kasarnya pupnya juga masih berwarna cokelat. Riani jadi teringat peristiwa suatu malam ketika menginap di wisma di Yogya, seorang tour guide perempuan tengah mengantar tamu-tamu bulenya menuju kamar di sebelah tempat Riani dan sepupunya menginap. Tiba-tiba dengan lantang si pemandu berkata lantang dengan logat Jawa kental, “Yes, Ai-Ken-Spik-Englis-Peri-Wel!” Kontan Riani dan sepupunya tertawa sangat keras. Mengingat hal itu, Riani jadi sedikit geli. Kejadian yang sama terulang lagi di dalam bus ini meskipun tidak separah yang di Yogya.
Busway akhirnya sampai di halte Halimun, halte tujuan Riani. Kedua perempuan tadi tidak berdiri, berarti mereka akan turun di halte Dukuh Atas. Ah, sudahlah. Ai don kér énimor bot dem. Ai jes wonne bék hom én go tu slip. Déts ol.
Dey ting its kul en ekstraordineri, tolking in englis in pron op oder pipel
eh itu header rawan owm budi.