Dua menit yang singkat, namun sangat berpengaruh dalam batinnya kali ini. Riani termangu, duduk diam selagi tangannya masih menggenggam ponsel. Benda berharganya itu berkedip-kedip menandakan kehidupannya yang akan segera berakhir, lalu beberapa detik kemudian ponselnya tewas dengan sukses. Riani berharap hati dan perasaannya bisa seperti ponselnya yang bisa diisi ulang, tapi dia tahu hati manusia bukanlah seperti benda-benda elektronik yang energinya bisa diisi ulang dengan baterai. Hati manusia itu hidup dari pengalaman dan kenangan yang dihadapinya selama nafas masih mengalir.
Entah mengapa, kali ini Riani merasakan sesak di dadanya. Sejumlah rasa berlomba-lomba memenuhi relung hatinya yang rapuh: rasa rindu, rasa sedih, rasa senang, rasa ragu, rasa kecewa. Rindu, karena Riani benar-benar merindukan sosok itu. Sedih, karena semuanya harus berakhir karena terlarang bak cerita Romeo dan Juliet milik Shakespeare. Jika berpikiran pendek, mungkin saja Riani akan senang hati menenggak racun seperti Romeo (ya, Riani terlalu takut untuk menghunuskan belati ke dada sendiri seperti Juliet… takut dadanya bocor, mungkin). Senang, karena bersyukur dia masih hidup dan dengan kondisi baik-baik saja. Ragu, karena mendengar suaranya yang begitu enggan membalas suara milik Riani. Kecewa, karena jika mengingat yang sudah lewat, ada sedikit penyesalan mengapa semua harus berakhir seperti itu. Masih ada harapan yang tersisa dan terus bertahan di dalam dadanya, namun Riani menepisnya karena toh dia tak akan memikirkan Riani lagi apalagi berniat untuk kembali. Dia TAK AKAN PERNAH kembali. Mungkin Kemungkinan besar Sepertinya PASTI untuk selamanya. Batinnya begitu nelangsa, berharap semua ini berhenti meski dia tahu dia tak mampu.
Sial! Riani memaki dirinya sendiri yang begitu rapuh dan lemah. Tenggorokannya tercekat. Kedua matanya terasa perih dan hendak meleleh. Namun sekuat tenaga dia berusaha menahannya. Akan jadi masalah jika keluarganya mengetahui semua ini. Semua orang tentunya akan bertanya-tanya jika melihat seseorang menangis, dan akan merasa aneh jika orang tersebut menangis tanpa sebab. Riani tahu persis, hidup terus berjalan. Waktu tak akan mau menunggu. Jadi, jika dia terus menerus bersedih, dia malah akan kehilangan hidup dan mimpinya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Riani mendambakan kehadiran seseorang yang akan membawa kebahagiaan untuknya, dan mampu melindungi hatinya yang begitu rapuh. Tapi… kapan? Riani sadar dia adalah perempuan biasa yang kodratnya ‘menunggu’, namun harus sampai kapan? Right person in the right place and right moment, but… when? Wallahu’alam. Tuhan saja yang tahu.
Masih teringat di dalam benaknya ketika ibunya membahas tentang jodoh. “Jodoh itu seperti lotre, Mbak,” kata beliau. “Kalau beruntung, maka kamu bisa dapat jodoh yang baik. Kalau nggak, ya sudah. Paling-paling cerai.” Tentu saja Riani langsung menyanggah bahwa dia sekuat tenaga tak ingin sampai terjadi perceraian dalam hidupnya. Daripada mendapatkan jodoh yang tak baik dan mendapat kebencian dari Tuhan, lebih baik melajang kan? “Lho ya nggak boleh kayak gitu dong. Nikah itu kan wajib. Kamu orang Islam bukan? Makanya… berdoa sama Allah minta jodoh yang baik. Yang seiman, bertanggung jawab dan tahu tata krama.” Riani hanya bisa terdiam. Nasihat yang sederhana, tapi begitu realitis. Manusia memang sudah selayaknya bergantung kepada Sang Pencipta.
Pikiran Riani, yang seharusnya sedang sibuk membahas tentang Konferensi Ekonomi dan Usaha-usaha RI Menembus Blokade Ekonomi Belanda untuk diajarkan ke murid-muridnya nanti, bernostalgia ke masa lalu. Yang pertama lahir dari sebuah pernyataan di telepon, hidup selama dua tahun dalam rangkaian pesan-pesan pendek antara Jakarta dan Bandung, lalu berakhir di ruang obrolan dunia maya dalam kebencian. Ya, kebencian. Tapi Riani tak sepenuhnya membenci dia. Riani hanya tak menyukai cara orang itu mencintainya saja. Jika separuh hidup Riani harus dihabiskan menunggu demi orang itu mencapai kemapanan selagi semakin terjerumus dalam dunia penggila anime bahkan mengakui diri sendiri adalah hikkikomori, itu gila. Riani memang juga menyukai anime, namun dia tidak segila itu untuk sungguh-sungguh menjerumuskan kehidupannya ke dalam hobinya itu. Yang kedua lahir di dunia chatting, hidup hanya dalam beberapa bulan dan berakhir dengan kesedihan. Ya, Riani mengalami pahitnya cinta terlarang. Sakit jika dia mengingat-ingat hal itu kembali, jadi lebih baik dia menguburnya dalam-dalam dengan mengukirkan peristiwa itu di batu nisan sebagai pengingat. Pengingat? Untuk apa? Bukankah dia sudah berniat untuk melupakannya? Setidaknya, menurut Riani, peristiwa tersebut dijadikan pengingat supaya dia tidak mengalami hal sejenis untuk yang kedua kalinya. Hanya keledai yang jatuh dua kali di lubang yang sama.
Jelas sekali di mata Riani, peristiwa yang berakhir dengan kebencian lebih mudah dilupakan daripada yang berakhir dengan kesedihan. Ayahnya pernah berkata sesuatu yang sampai sekarang masih diingat gadis berkacamata itu: “Paling enak putus kalau lagi marah-marahan. Nggak terlalu sakit hati. Yang nyesek ya kalau putus pas lagi seneng-senengnya.” Mengingat perkataan ayahnya, Riani jadi tersenyum sendiri. Tapi… ah! Masih ada lanjutannya! “Makanya kalau kamu udah bosen, bikin ribut aja. Kalau udah marah ntar juga putus. Jadi yang diinget cuma yang jelek-jelek doang.” Tawa Riani hampir saja meledak. Ayahnya pintar juga bisa serius dan bercanda dalam satu kesempatan yang sama. Namun yang jelas, kedua peristiwa itu begitu membekas dalam hati Riani. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana dia mempersiapkan dirinya dengan menjadi dirinya sendiri untuk menyambut cinta yang baru, yang Riani sendiri tak tahu persis kapan datangnya. Suatu saat nanti, pasti.
Selongsong belakang terbuka dalam satu bunyi ‘klak’ kecil, lalu Riani mencabut baterai dari ponselnya. Dia beranjak mengambil baterai pengganti, memasangnya, lalu menghidupkan ponselnya kembali. Slot penanda baterai di layar ponselnya langsung terisi penuh. Finally refilled. Jika hatinya seperti ponsel, Riani berharap menemukan baterai baru pengganti baterai lama yang saat ini sudah berkedip-kedip lemah sambil mengusung tanda ‘OUT OF CHARGE‘. Tidak hanya untuk sehari, sebulan, setahun, dua tahun… namun tetap FULL untuk selamanya.
Kayaknya ada chance untuk dagang HIT disini….
WAh! JADI ELU PERNAH PACARAN DENGAN OTAKU!!! FOTO-FOTO DONG!!!!!!
*tereakin vicong*
jah… sudah saya usulkan, ID-Anime bikin pabrik Obat Nyamuk sendiri sajah… customernya makin banyak..
Pasti ini kerjaannya si transgender…
pew….. kok ada yang lenih bloon dari aku seh. huh
*ngambek mode on, karena ada yang lebih bloon, bisa jatuh ke lubang yang sama*
*giles si bloon*
WAH NGELAG ENTAH BERAPA LAMA
BARU BACA….
JADI BANG SAPA BANG YG PERLU DIEKSEKUSI….
*nyari2 parang yg dikiloin kemaren*