Feeds:
Posts
Comments

Malam belum terlalu larut. Seperti biasa, sesudah mengajar, Riani langsung pulang dengan menggunakan angkot menuju halte busway Jati Padang. Tidak ada yang istimewa yang dia rasakan: hanya melangkahkan kaki menapaki bangunan seng ringkih berwujud jembatan berkelok-kelok pengganti tangga menuju loket karcis. Setelah mengeluarkan selembar uang kertas bergambar Imam Bonjol dan menerima selembar Pattimura dan sekeping Melati beserta sobekan karcis, Riani masuk ke dalam halte dan duduk menunggu. Tak lama, busway datang.

Suasana di dalam bus juga tak terlalu spesial. Setelah menyadari tempat favoritnya di barisan belakang pojok kanan sudah ditempati orang lain, Riani mengarahkan pandangannya ke tengah bus. Ada tempat kosong–yah sebenarnya ada banyak, namun Riani agak pemilih dalam mencari tempat duduk yang sesuai, yang setidaknya tidak tepat terkena sentoran AC busway yang luar biasa kencang dan tidak terlalu berpepet-pepetan dengan tubuh orang lain, terutama om-om. Dia duduk dengan nyaman di bangku ketiga di sebelah kiri badan bus dekat pintu masuk utama, sampai akhirnya menyadari bahwa tiga orang yang berada di depannya tengah berbincang dengan nada yang berbeda.

Continue Reading »

Lahir, Hidup, lalu Mati

Dua menit yang singkat, namun sangat berpengaruh dalam batinnya kali ini. Riani termangu, duduk diam selagi tangannya masih menggenggam ponsel. Benda berharganya itu berkedip-kedip menandakan kehidupannya yang akan segera berakhir, lalu beberapa detik kemudian ponselnya tewas dengan sukses. Riani berharap hati dan perasaannya bisa seperti ponselnya yang bisa diisi ulang, tapi dia tahu hati manusia bukanlah seperti benda-benda elektronik yang energinya bisa diisi ulang dengan baterai. Hati manusia itu hidup dari pengalaman dan kenangan yang dihadapinya selama nafas masih mengalir.

Entah mengapa, kali ini Riani merasakan sesak di dadanya. Sejumlah rasa berlomba-lomba memenuhi relung hatinya yang rapuh: rasa rindu, rasa sedih, rasa senang, rasa ragu, rasa kecewa. Rindu, karena Riani benar-benar merindukan sosok itu. Sedih, karena semuanya harus berakhir karena terlarang bak cerita Romeo dan Juliet milik Shakespeare. Jika berpikiran pendek, mungkin saja Riani akan senang hati menenggak racun seperti Romeo (ya, Riani terlalu takut untuk menghunuskan belati ke dada sendiri seperti Juliet… takut dadanya bocor, mungkin). Senang, karena bersyukur dia masih hidup dan dengan kondisi baik-baik saja. Ragu, karena mendengar suaranya yang begitu enggan membalas suara milik Riani. Kecewa, karena jika mengingat yang sudah lewat, ada sedikit penyesalan mengapa semua harus berakhir seperti itu. Masih ada harapan yang tersisa dan terus bertahan di dalam dadanya, namun Riani menepisnya karena toh dia tak akan memikirkan Riani lagi apalagi berniat untuk kembali. Dia TAK AKAN PERNAH kembali. Mungkin Kemungkinan besar Sepertinya PASTI untuk selamanya. Batinnya begitu nelangsa, berharap semua ini berhenti meski dia tahu dia tak mampu.

Continue Reading »

Bangkit dari Kubur

PROLOG:
Sudut pandang ketiga pun bisa jadi personalitas yang unik.

***

Malam Sabtu, 8 Agustus 2008, pukul 23:48 WIB. Saat itu Riani sedang duduk sendirian di depan komputernya. Ponselnya tergeletak di atas meja komputer dengan kondisi Opera Mini menyala. Sementara itu, WMP-nya memutar lagu-lagu yang berhasil dia download tadi sore di kampus dengan koneksi secepat siput. Ya, ritual ini adalah kebiasaannya tiap malam setelah pulang mengajar di bimbel tempat dia bekerja paruh waktu sejak akhir April yang lalu. Entah apa yang ada di dalam pikirannya yang sering terasa mumet hingga berakibat migrain, padahal tubuhnya jelas-jelas begitu lelah. Matanya sudah memerah. Perjalanan ke bimbel pergi-pulang menggunakan angkot dan busway jelas menguras tenaga, belum ditambah energi yang terpakai ketika mengajar murid-muridnya yang usianya tersebar dari umur 12 sampai 18 tahun. Dari pengalamannya selama bekerja, Riani akhirnya menyadari bahwa tak berkeringat itu tak enak selagi badan memanas dalam sibuknya aktivitas. AC memang berpotensi besar membuat lemak membeku dan menumpuk dalam tubuh.

Continue Reading »

Older Posts »